Modernitas, Masyarakat Berisiko, dan Subpolitik
: Bahrul Amsal
====
diambil dari alhegoria.blogspot.com
ERA modernitas berbeda dari masa
masyarakat pra pencerahan yang ditandai dari kemampuan masyarakat melakukan
refleksi.
Semenjak identitas individu
menguat, manusia menemukan suatu pendasaran dalam dirinya untuk
mememungkinkannya melakukan tindakan-tindakan antara proyeksi dan refleksi.
Dalam keadaan itu manusia sebagai
agen atas kehidupannya, tidak lagi sepenuhnya menempatkan penemuan kesadarannya
kepada institusi-institusi di luar darinya, melainkan dilakukan dengan cara
dialektis antara kemampuan berpikirnya dengan himpunan-himpunan struktur di
lingkungannya.
Itu artinya, konsep mengenai diri
merupakan korpus terbuka yang bisa berubah, dibentuk, dan dinegoisasikan ke
dalam tegangan tarik menarik antara diri dengan lingkungan sosialnya.
Kata Anthony Giddens, seorang
sosiolog Inggris, refleksi modernitas ini disebutnya sebagai sebuah ”proyek
refleksi”, yang berarti betapa meluasnya dampak modernisasi itu sebenarnya,
sampai-sampai perubahan ke arah pembaruan tidak saja mencakup wilayah material
kehidupan berupa pembangunan infrastruktur, sistem ekonomi, dan tatanan sosial
politik, melainkan merasuk sampai ke tingkat pengalaman hidup seseorang.
Kesimpulan atas pernyataan di atas
berarti tidak ada pakem fix berkaitan dengan identitas seseorang, seperti sudah
disebutkan sebelumnya. Diri atau personalitas seseorang yang disebut
identitasnya merupakan hasil eksplorasi dan produk dari perkembangan hubungan
sosial yang intim.
Ini seperti proses individuasi
ketika seseorang menyerap unsur-unsur perubahan berupa pandangan dunia, gaya
hidup, filsafat nilai, dan keyakinan agama, menjadi sikap pribadinya.
Proses bagaimana masyarakat
menentukan refleksifitasnya bukan berarti tanpa masalah oleh sebab
faktor-faktor tak terduga dari perubahan itu sendiri.
Dunia modern dikatakan Giddens
bakal dihadang ”sequestrasion of exprerience”, yakni semacam tercerabutnya
pengalaman eksistensial manusia ke dalam sistem-sistem abstrak ciptaannya
sendiri.
Kapitalisme, demokrasi, agama, atau
ideologi merupakan sistem abstrak yang membuat manusia hidup di dalam keterpisahan
terhadap kenyataan konkretnya.
Karl Marx di dalam kritiknya
terhadap kelas borjuis melayangkan suatu ide yang dia sebut alienasi. Konsep
ini selain merupakan hasil dari sistem kerja kapitalisme yang mencuri nilai
lebih dari tenaga kelas pekerja, sebenarnya secara tidak langsung menciptakan
demarkasi antara kerja konkret buruh dengan sistem kapitalisme yang nyatanya
begitu jauh dari pengalaman kerja para buruh.
Kapitalisme sebagai suatu ideologi,
mengapa demikian kebal kritik karena merupakan jaringan , hubungan, dan sistem
ekonomi yang secara ontologis memisahkan dirinya dari suatu mata rantai panjang
agar tidak berhubungan langsung dengan tenaga kerja yang merupakan hal konkret
dalam aktivitas produksi.
Di era modern, pola-pola seperti
ini dinyatakan Giddens yang dapat menyebabkan
masyarakat terjebak kepada sistem-sistem besar yang cukup imperatif
mengambil peran langsung masyarakat itu sendiri.
Itu artinya, mengapa keterasingan
masyarakat sangat mungkin terjadi oleh karena semakin besar dan meningkatnya
peran sistem abstrak bagi kehidupan masyarakat.
Masyarakat, dengan kata lain, akan
kehilangan kendali atas dirinya selama ia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada
sistem abstrak yang berada di luar dari dirinya.
Uniknya, menurut Giddens,
keterasingan masyarakat di dalam sistem abstrak bakal menciptakan dan
meningkatkan rasa aman yang semakin besar pula.
Kepercayaan masyarakat kapitalis
menanam investasi, pajak negara, iuran BPJS, jaminan sosial, atau bahkan keimanan
kepada komunitas jemaah tertentu, merupakan bentuk-bentuk hubungan masyarakat
yang percaya kepada sistem abstrak sebagai jaminan keselamatannya.
Semakin abstrak dan berperannya
sistem itu, semakin besar pula rasa aman yang tertanam dalam diri seseorang.
Tapi, meski demikian, menurut
Giddens rasa aman ini di waktu bersamaan bakal melenyapkan probelm eksistensial
masyarakat. Masyarakat, dalam hal ini, akan menjadi entitas yang sepenuhnya
bagai hidup di dalam surga lantaran semua problem dihadapinya sudah sepenuhnya
diambil alih sistem abstrak.
Keadaan inilah yang membedakan
modernitas klasik dengan era kiwari dari segi orientasinya. Masyarakat dalam
modernitas klasik senantiasa mencari persamaan (hak, identitas, kelas, upah)
sebagai orientasinya yang berbeda dengan orientasi masyarakat sekarang yang
lebih mengutamakan keselamatan.
Ulrich Beck, seorang sosiolog
Jerman melihat mengapa solidaritas masyarakat kontempporer senantiasa
menciptakan peluang kerja sama demi keselamatan dan bukan persamaan semata
sebagai cita-citanya, sebagai konsekuensi dari apa yang ia sebut risk society.
Risk society atau masyarakat
berisiko merupakan keadaan masyarakat yang hidup di dalam risiko-risiko
pembangunan. Keadaan ini disebut Beck sebagai tahap perkembangan lanjutan dari
era kehidupan modern yang bergerak dan digerakkan industrialisasi.
Masyarakat berisiko bukan
diskontuinitas seperti dibayangkan sosiolog seperti Lyotard atau tokoh
posmodernisme lainnya, melainkan suatu keadaan masyarakat modern yang mengalami
lonjakan secara massif kualitatif dari segi semakin tidak pastinya
kepastian-kepastian yang ditawarkan zaman itu sendiri.
Mengapa ini dapat terjadi, oleh
sebab karena pudarnya paksaan-paksaan struktural seperti dialami dalam
masyarakat modern sebelumnya.
Terpisahnya paksaan struktural atas
individu, menimbulkan ruang refleksi yang besar agar individu dapat bertindak
bebas. Kebebasan bertindak yang disebut Beck semakin reflektif inilah yang
membuat sulitnya prediksi-prediksi atas arah perkembangan masyarakat.
Itu artinya, di tengah
ketidakpastian itu, masyarakat yang mengalami individuasi mesti menanggung
sendiri risiko-risiko yang dialaminya. Tanggung jawab individu mau tidak mau
menjadi satu-satunya pilihan ketika seluruh jaminan sosial yang dahulu ditanggung
negara hilang dan beralih ke tingkat individu.
Kehancuran alam, kemiskinan,
pengangguran massal, kelangkaan barang, kepunahan, pandemi penyakit, dan
kelainan genetika, merupakan beberapa risiko atas modernitas, yang kian hari
menjadi risiko individu tanpa ada jaminan masa depan negara.
Beck bahkan mengatakan risiko
merupakan hal fundamental di dalam masyarakat industri lanjutan, meski itu
tidak akan merata akibat kelas sosial yang berbeda dan bertingkat.
Artinya, dalam taraf tertentu
risiko bisa terakumulasi di tingkat grass root tanpa sama sekali naik menyentuh
kelas atas, disebabkan kemampuan kelas atas yang memiliki sumber daya melimpah.
Risiko bukan berarti tidak akan
dirasakan bagi kelas atas, akan tetapi jika mereka mendayagunakan kekuatan
modal, jaringan, teknologi, dan pendidikan, risiko-risiko berupa penyakit,
kemiskinan, pencemaran alam, dan kelangkaan barang, misalnya, dapat segera
diselesaikan.
Dalam bidang politik, risiko
modernitas Beck disebutnya sebagai ”subpolitik”, yang berarti munculnya
kekuatan baru yang lebih reflektif dari pemerintahan pusat. Itu artinya
pemerintah mengalami desakralisasi atas kekuasaannya bersamaan dengan meguatnya
kekuasaan dari elemen lain, berupa kelompok ilmuwan, medis, atau kelompok
agama.
Beck mengatakan kemunculan
subpolitik ini juga berarti hilangnya kemampuan pemerintah pusat dalam
menangani problem-problem modernitas itu sendiri. Ini disebabkan karena semakin
mawas dirinya kelompok subpolitik dalam menanggapi serta menanggulangi
persoalan yang dihadapi.
Dampak lanjutan dari hal ini
menurut Beck akan menimbulkan ”unbinding of politics” , yang berdampak atas
berpindahnya kekuasaan pusat ke kelompok-kelompok subpolitik di bawahnya.
Di tanah air, risiko-risiko
modernitas gampang ditemukan di kenyataan sehari-hari. Penggusuran akibat
kapitalisasi ruang, kehancuran hutan dan sumber air bersih, banjir, konflik
kelas, pandemi virus mematikan, serta kemunculan subpolitik yang semakin
mendesentralisasi pusat, adalah beberapa contoh bagaimana risiko modernitas
tidak dapat dihindarkan.
====
diambil dari alhegoria.blogspot.com




