Auguste Comte, Peletak Batu Pertama Sosiologi

: Muhammad Nur


JAUH sebelum Auguste Comte memproklamirkan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan masyarakat, sebelumnya sudah banya tokoh telah menaruh perhatian pada masyarakat. Seperti Ibn Khaldun (1332-1406) yang menafsirkan prinsip pokok dalam kejadian-kejadian sosial. Ibn Khaldun lebih banyak melihat hubungan dan interaksi sehingga menyatakan bahwa yang membangun kesadaran bersatu dalam sebuah negara, bangsa, atau kelompok adalah rasa solidaritas.

Kemudian John Locke (1632-1704) yang banyak mengungkap pikirannya dalam menelaah masyarakat, pendidikan, politik dan filsafat. Serta masih banyak tokoh lain yang telah membahas masyarakat. Tetapi Comte-lah melalui karya filsafat positifnya, yang telah menetapkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mengkaji manusia dari kehidupan bermasyarakat.

Auguste Comte, seorang filsuf sekaligus sosiolog berkebangsaan Prancis. Lahir pada tahun 1798 dan meninggal 5 September 1857 di Paris. Inti dari pemikirannya mengajukan pendekatan ilmiah sebagai intrumen dalam memperoleh kebenaran ilmu sosial. Metode ini disebut filsafat positivisme. Manusia nanti akan dikatakan maju dalam berfikir atau mencapai puncak pengetahuan ketika sudah sampai pada tahap positif (ilmiah).

Comte sudah memprediksi bahwa sosiologi nanti akan menjadi ilmu yang paling kompleks. Kemudian nanti akan mengalami perkembangan yang pesat. Comte membagi sosiologi menjadi dua yaitu:

Pertama, Sosiologi statis (statistika sosial) di mana masyarakat lahir dari hukum yang statis. Melihat aksi-aksi dan reaksi timbal balik dari sistem-sistem sosial.  


Auguste Comte
Bapak filsafat positif
Peletak dasar Ilmu Sosiologi

Kedua, sosiologi dinamis (dinamika sosial) yang melihat masyarakat mengalami sebuah perkembangan dalam hal pemikiran. Manusia akan mengalami evolusi perkembangan berfikir menuju cara berfikir positif.

Comte menjelaskan bahwa manusia mengalami perkembagan berfikir melalui tiga tahap yaitu:

Tahap pertama adalah tahap teologi, sebagai periode awal manusia di mana manusia merasa lemah dan tidak berdaya di hadapan semesta sehingga mengharap perlindungan pada hal-hal yang dianggap mempunyai kekuatan besar dan menggantungkan harapan serta perlindungan kepadanya. Seperti dewa-dewa yang menguasai kehidupan atau Tuhan yang Maha Esa.

Tahap kedua adalah periode  metafisik, merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa dalam setiap gejala sosial terdapat kekuatan yang menggerakkan dan nantinya akan dapat terungkap melalui pemikiran spekulatif seperti filsafat. 

Tahap Positif, sebagai tahap tertinggi pemikiran manusia. Setiap gejala sosial maupun gejala alam mampu diverifikasi kebenarannya dan mampu dijelaskan secara empiris.

Comte sebagai bapak sosiologi tidak sepenuhnya mampu membawa sosiologi pada ilmu empiris murni, sebab masih sangat dipengaruhi oleh filsafat dalam menganalisis masyarakat. Sehingga Emile Durkhem (1858-1917) sebagai tokoh sosiologi modern berupaya membangun sosiologi dengan meninggalkan pengaruh filsafat positif Auguste Comte dengan menjadikan fakta sosial sebagai dasar dalam mengkaji masyarakat. 

(Review pertemuan Komlem ke-4: Selasa, 14 Januari 2020: 20.00-00.00: Warkop Society)



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram