Reading
Add Comment
: Andi Reza Syahrane
Lahir
di Prancis pada 15 April 1858, Emile Durkheim tumbuh besar dari keluarga rabi
yang taat. Semasa kecil ia tampaknya diarahkan untuk mengikuti jejak ayah dan
leluhurnya untuk menjadi seorang rabi. Namun setelah lulus sekolah, Durkheim
dewasa lebih memilih menjadi seorang humanis dan rasionalis dibanding memeluk
keyakinan agama ayahnya. Agama bagi Durkheim hanya dijadikan sebagai objek
kajian dalam karir profesionalnya sebagai akademisi.
Selepas
mendapatkan gelar doktoral dalam bidang sosiologi dari Universitas Sorbonne di
Paris, disertasinya yang berjudul “The
Division Labour in Society” (1893), dipublikasikan dan berpengaruh amat
luas hingga saat ini. Karya-karya lain
yang ikut membesarkan namanya antara lain : “The
Rules of Sociological Method” (1895), “Suicide”
(1897), dan masterpiece-nya “The
Elementary Forms of the Religious Life” (1912).
![]() |
| Emile Durkheim Ia mengkritik Auguste Comte karena cenderung spekulatif melihat masyarakat |
Emile
Durkheim bisa disebut sebagai salah satu figur kunci dalam perkembangan ilmu
sosiologi modern. Dia disebut juga sebagai salah satu sosiolog awal yang
melakukan pendekatan saintifik dalam studi sosiologi. Berkat kerja kerasnya
inilah Durkheim disebut sebagai perintis dari lahirnya sosiologi modern.
Pendekatan
saintifik Durkheim sedikit banyak dipengarungi oleh pandangan Auguste Comte
dalam menjelaskan tahap evolutif kesadaran manusia. Menurut Comte, puncak
perkembangan kesadaran (awareness)
manusia ketika sampai pada tahap
positivis, dimana setiap fenomena atau gejala-gejala sosial dapat dijelaskan
sebagai sebuah hubungan yang bersifat organis antar unsur-unsurnya. Dengan
dasar inilah, Durkheim membangun metodeloginya sendiri sekaligus mengkritik balik
pemikiran Comte yang begitu abstrak dalam melihat masyarakat hanya pada aspek
kesadarannya(awareness) saja.
Konsep
penting yang dikenalkan Durkheim dalam studi sosiologi ialah mengenai “fakta
sosial”. Menurutnya, sosiologi memiliki kemampuan untuk menganalisis dunia
sosial secara ilmiah dengan cara menginvestigasi fakta sosial itu sendiri.
Fakta sosial dapat diartikan sebagai sebuah gejala sosial (spesialisasi,
pembagian kerja dan kekuasaan dalam masyarakat serta kepercayaan-kepercayaan
keagamaan) yang eksis diluar diri
manusia yang bersifat “imperative” (memaksa) dan ikut serta menentukan perilaku
sosial individu tanpa disadari.
Gagasan
lain yang banyak disinggung oleh Durkheim dalam teorinya ialah mengenai
solidaritas yang menjadi bagian penting dalam hubungan individu dan masyarakat.
Durkheim membedakan solidaritas menjadi dua bagian yaitu:
1. Solidaritas
mekanis yang dimaknai sebagai bentuk solidaritas yang didasarkan pada suatu
kesadaran kolektif yang dimiliki individu-individu yang memiliki sifat dan pola
normatif yang sama. Ciri dari solidaritas mekanis adalah tingkat homogenitas
individu yang tinggi, melakukan aktifitas dan tanggung jawab yang sama, tingkat
ketergantungan antar individu yang sangat rendah. Hal ini dapat dilihat pada
pembagian kerja dalam masyarakat. Sebagai misal masyarakat pedesaan yang masih
merawat tradisi gotong-royong di musim
panen.
2. Solidaritas
organik, dimaknai sebagai bentuk solidaritas yang didasarkan pada tingkat
kesadaran kolektif yang rendah dan makin menonjolnya individualisme . Ditandai
dengan adanya saling ketergantungan yang tinggi antar individu akibat
beragamnya pembagian kerja. Hadirnya spesialisasi pekerjaan menjadikan hubungan
relasional bersifat fungsional semata. Ini banyak dijumpai pada masyarakat
modern perkotaan.
(Review pertemuan Komlem ke-5: Selasa, 21 Januari 2020: 20.00-00.00: Desa Taeng)
0 komentar:
Posting Komentar