Emile Durkheim: God is Nothing More than Society (bag. 2)

Andi Reza  Syahrane

SETELAH  mengenal pembagian solidaritas ke dalam 2 tipe, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik, akhirnya kita  dapat mengetahui bahwa solidaritas mekanik identik dengan masyarakat tradisional yang diikat oleh “kesamaan” dalam bentuk kesadaran kolektif. Berbeda dengan solidaritas organik yang identik dengan masyarakat urban yang cenderung diikat oleh “perbedaan” dalam bentuk pembagian kerja.

Seperti yang kita ketahui, Emile Durkheim banyak memberi perhatian pada persoalan  fakta sosial. Ini terlihat dalam banyak karyanya, diantaranya Suicide (bunuh diri). Dalam karya yang dipublikasikan tahun 1897, Durkheim mencoba menjelaskan hubungan jenis-jenis bunuh diri dengan dua fakta sosial utamanya, yaitu integrasi dan regulasi. Integrasi merujuk pada kuat tidaknya keterikatan dalam masyarakat, sedangkan regulasi merujuk pada tingkat paksaan eksternal yang dirasakan oleh individu. Bagi Durkheim, bunuh diri tidak hanya dapat dilihat sebagai gejala individu, tetapi lebih cenderung didorong oleh desakan sosial.

Dalam upayanya menjelaskan teorinya, Durkheim mengkaji data statistik angka bunuh diri masyarakat Eropa Barat. Dalam temuannya, wilayah yang penduduknya mayoritas Kristen Protestan memiliki angka bunuh diri yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah yang penduduknya mayoritas memeluk agama Katolik. Durkheim menyimpulkan bahwa rendahnya solidaritas diantara pemeluk agama Kristen Protestan, yang cenderung individualis dan kritis, menjadi penyebab utama tingginya angka bunuh diri di wilayah tersebut.

Karikatur Emile Durkheim
Durkheim berpandangan manusia
memiliki dua wajah,
yakni sisi Tuhan (God) dan sisi Iblis (Evil)

Bunuh diri yang demikian, disebut Durkheim sebagai bunuh diri “egoistik”. Kasus seperti ini ramai terjadi pada masyarakat modern, alih-alih hidup dalam keramaian, namun merasa ter-‘asing’ dalam masyarakat. Ambilah contoh dari beberapa pesohor K-Pop, Sulli dan Goo Hara.

Durkheim juga menyadari, tingginya solidaritas dalam masyarakat dapat memicu seseorang melakukan bunuh diri. Ini terjadi karena kuatnya ikatan sosial sehingga seseorang rela mengorbankan dirinya demi kelompoknya atau kepentingan banyak orang. Yang demikian ini, disebut sebagai bunuh diri “altruistik’. Kita dapat menyebut banyak contoh seperti bom bunuh diri yang dilakukan oleh radikalis ISIS beserta partisannya atau syahidnya Qasem Soleimani. Selain faktor solidaritas, angka bunuh diri juga dipengarungi oleh ketatnya regulasi dalam sebuah wilayah. Sebagai contoh, ketatnya aturan dalam keluarga dapat mendorong anak mangambil pilihan bunuh diri untuk lepas dari desakan tersebut. Durkheim menyebutnya sebagai bunuh diri “fatalistik”.

Tipe terakhir yaitu bunuh diri “anomik” yang hadir akibat longgarnya atau terganggunya regulasi dalam masyarakat dan melahirkan ketidakpuasan dalam diri individu. Misalnya, bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang kehilangan pekerjaan atau seseorang yang kehilangan tujuan hidupnya.

Asal usul agama

“God is nothing more than society”. Itulah yang disimpulkan Durkheim dalam merumuskan  asal-usul agama. Dalam upayanya menganalisis totemisme, atau pemujaan terhadap hewan dan tumbuhan sebagai agama paling primitif yang dikenal manusia, ia menemukan adanya praktik-praktik yang berkaitan dengan hal-hal sakral dan yang tidak sakral (profan), yang kemudian  dibangun sebagai sebuah sistem kepercayaan yang dikenal sebagai agama.
Durkheim berargumen bahwa sakral dan profan pastilah berawal dari sesuatu yang wujudnya benar-benar empiris (nyata) bagi masyarakat tradisional, bukan sesuatu yang misterius atau sosok yang supranatural. Alih-alih menyimbolkan Tuhan, Totem lebih dianggap sebagai simbol suku atau klan yang bersangkutan.

Suku-suku dengan sistem kepercayaan totemisme memiliki ikatan persaudaran yang unik. Mereka tidak diikat oleh ikatan darah, tapi cenderung dihubungkan oleh ikatan kesamaan nama atau totem. Totem ini umumnya mengambil bentuk binatang atau tumbuhan tertentu, yang kemudian diukir atau digambar pada tubuh mereka. Upaya ini, menurut Durkheim untuk mengubah sesuatu yang awalnya  profan (kayu, batu atau anggota tubuh) menjadi sesuatu yang bersifat sakral.

Argumen lain yang ikut menguatkan kesimpulan Durkheim karena adanya empat kesamaan antara Tuhan dengan masyarakat itu sendiri yaitu : 1) Keduanya merupakan keberadaan yang lebih besar dari pada individu. 2) Keduanya ditakuti oleh individu. 3) Keduanya tidak dapat hadir tanpa adanya kesadaran individual, dan 4) Keduanya menuntut individu untuk mengorbankan sesuatu secara berkala.

Perspektik inilah yang akhirnya mendorong  Durkheim sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak lain adalah masyarakat itu sendiri (“God is nothing more than society”) atau kita bisa menyebut bahwa dengan agamalah, masyarakat ingin menunjukkan identitas dirinya.


(Review pertemuan Komunitas Lemo-lemo ke-6, Taeng, Selasa 28  Januari 2020)


0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram